“KA…Bangun udah jam setengah 4 pagi!!!” teriak meme (ibu) membangunkan.
“Huahemmmmmmmm….ya me.” jawab ku.
Itulah awal kehidupanku hari ini. Sebenarnya tidurku masih belum sempurna hari ini, enggan untuk bangkit dari tempat tidur dan memotong mimpi indahku malam ini. Mengingat kalau pagi ini harus ke Grya Timbul, Sanur mengikuti upacara Ngeseng Sekah/Pralina Sekah rangkaian upacara Penileman/memukur/nyekah, saya pun memaksakan diri untuk bangun. Kumpi (lebih tua dari nenek) saya dari keluarga Ibu ngiring memukur di Grya timbul Sanur.
Penileman/Memukur/Nyekah merupakan rangkaian dari upacara ngaben. Biasanya dilakukan sebulan sesudah upacara ngaben. Upacara memukur ini memakan biaya yang cukup besar maka dari itu dilakukan secara massal dan keluarga Sulinggih sebagai tuan rumah. Orang-orang biasa seperti saya biasanya Ngiring atau ngikut supaya tidak terlalu mengeluarkan biaya banyak. Upacara memukur merupakan salah satu jenis Upacara Atma Wedana karena yang diupacarai adalah Atma. Tujuannya adalah melepaskan atma dari ikatan suksma sarira.
Adapun rangkaian upacara terkait dengan upacara Mamukur ini.
Nuasen karya sebenarnya wajib dilakukan di setiap kegiatan keagamaan di Bali. Nuasen Karya merupakan awal dari semua kegiatan keagamaan di Bali. Bahkan membentuk sebuah sekeha Gong di Bali pun harus diawali dengan Nuasen. Menurut e-banjar.com, Upacara Nyekah diawali dengan nanceb (memasang) Sanggah Pekideh, yaitu sanggah cucuk yang diletakan di masing-masing pura kahyangan tiga, banjar, perempatan, dan tempat-tempat yang dianggap perlu kemudian dilanjutkan dengan upacara Netegan.
- Ngingsah, Melaspas Bale Peyadnyan, Ngangget Don Bingin.
Setelah dilakukan upcara Nuasen Karya, beberapa hari berikutnya dilakukan upacara Ngingsah dimana bertujuan untuk menyucikan bahan-bahan terutama beras yang akan dipakai sarana Upacara dan dipimpin oleh Sulinggih. Kemudian dilanjutkan dengan melaspas bale Peyadnyan dan Wukur/Bukur. Bale Penyadnyan adalah tempat untuk meletakkan simbol-simbol Atma (Puspa) sedangkan Bukur/Wukur adalah sarana untuk membawa Puspa tersebut ke Segara pada acara puncaknya. Melaspas Bale Peyadnyan disini berarti menyucikan, memberikan jiwa atau roh sehingga bisa digunakan sebagai Bale Peyadnyan. Begitu juga dengan melaspas Bukur, disucikan dan dimohonkan kekuatan Ida Sang Hyang Widhi sehingga Bukur tersebut bisa digunakan sebagai sarana upacara.
Sore harinya disambung dengan upacara ngangget Don Bingin (Daun Beringin). Pohon Beringin bagi umat non Hindu dianggap sebagai sarangnya makhluk halus, tapi bagi umat Hindu Beringin merupakan pohon yang sangat disakralkan. Pohon Beringin yang dipakai tidak sembarangan biasanya pohon beringin yang digunakan adalah yang tumbuh di Areal pura dan sudah diupacarai sebelumnya. Biasanya dilakukan dengan mepeed/beriringan dari Bale Peyadnyan ke tempat upacara ngangget don Bingin. Ada dua jenis daun yang dicari. Daun yang saat jatuhnya tengkayak (menengadah) sebagai simbol Predana(perempuan) sedangkan daun yang jatuhnya melingeb (telungkup) sebagai lambang Purusa.(laki-laki). Setelah itu kembali ke Bale Peyadnyan, ada juga yang langsung ke rumah masing-masing bagi yang ngiring.
- Ngulapin ke Segara, Ngajum Sekah
Keesokan harinya dilakukan upacara ngulap ke segara yaitu memanggil kembali roh atau atma yang sebelumnya pada acara Ngaben kita kembalikan ke alam untuk diupacarai. Setelah itu dilanjutkan dengan Ngajum Sekah yaitu membuat simbol dari pada atma yang akan di upacarai dilakukan oleh seorang Pandita atau Ida Bagus yang dibuat dari batang pohon dapdap dihias dengan bunga medori putih, dan di taruh di atas bokoran. Berbeda dengan ngajum saat Ngaben.
Setelah semua acara diatas dilakukan barulah dilakukan Puncak Acara. Ada beberapa rangkaian upacara yang dilakukan pada puncak acara ini. Pada acara Purwa Daksina ini, semua Puspa (simbol Atma) mengitari Bale Peyadnyan sebanyak tiga kali mengikuti arah jarum jam yang dituntun seekor sapi. Mungkin sapi tersebut bertujuan menuntun Atma kita nanti dimana diketahui Sapi merupakan hewan suci agama Hindu dimana merupakan sthana Dewa Siwa. Terus malam harinya dilakukan upacara meecan-meecan. Keesokan paginya, dilakukan upacara Pralina sekah/ngeseng sekah dan kemudian dilanjutkan dengan upacara nganyut ke Segara.
Belum selesai sampai disana karena masih ada rentetan acara berikutnya yaitu Nyegara Gunung dan mepinton ke pura-pura besar di Bali. Baru kemudian Atma tersebut bisa dilinggihkan di merajan atau sanggah kemulan.
Dan Semoga Kumpi bisa kembali ke CAHAYA…Astungkara
Kira-kira seperti itu. Kalau ada yang salah bisa diperbaiki.